Follow Us @soratemplates

15 Feb 2020

Ngikut Ngawas Sakernas Pertama Kali

Februari 15, 2020 1 Comments

asdfghjklzxcvbnmqwertyuiop

Begitulah yang terdengar di telingaku. Asing. SANGAT. Selayaknya sedang pergi keluar negeri. Ah tidak. Aku masih bisa berbahasa inggris. A little bit but not an expert or something, whatever lah. Apakah aku akan bertahan disini? Bagaimana jika pada saat pencacahan aku tidak mendapatkan responden yang dapat bercakap menggunakan bahasa Indonesia. Mm mungkin itu masih dapat dibantu oleh mitra-mitra yang tidak hanya bisa berbahasa daerah setempat juga mengerti tentang medan. Tidak apa-apa, belum genap seminggu kok aku merantau disini. Kedepannya, dipikir nanti. Tapi bagaimana ketika aku membutuhkan suatu bantuan dan harus berbahasa bugis? Tidak tahu. Hehe.

AKU TIDAK BISA DAN TIDAK MENGERTI BAHASA BUGIS.
=====================================================================================

Pagi ini aku diajak Kak Win untuk mengunjungi kecamatan paling ujung di Kabupaten Pinrang, Suppa. Ajakan ini berhubungan dengan pengawasan yang akan dilakukan oleh Kak Win terkait pencacahan Survey Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), nama survey yang cukup sering dikenalkan ketika aku masih bersekolah (ecielah sekolah, iyala sekola tinggi ilmu setatistik). Perjalanan dari kantor yang terletak di pusat kota Pinrang (Wattang Sawitto), menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit. Jalan yang kami lalui ditemani oleh banyak pepohonan yang ringan serta kanan kiri sawah terbentang luas. Wah cukup menarik untuk ubinan #ngawur, pikirku dalam hati.

Masuk kecamatan Suppa, jalan yang kami tempuh cukup terjal. Belum terlalu bagus. Tapi itu normal sih. Di Jawa pun sama. Ada juga yang belum mulus jalannya. Terkadang harus melalui lubang jalan yang cukup dalam dan tidak kelihatan untuk jarak pandang sekian meter. Tetap bagus nih untuk sepeda motor jenis bebek yang bandel. Lain hal nya jika motor matic, harus siap-siap 'kejeglung' ria untuk beberapa saat (meskipun motor bebek pun sama sih, hanya tidak terlalu parah).

Bagi teman-teman yang belum paham tentang SAKERNAS, ini aku ada penjelasan singkat ya terkait hal itu. Jadi, SAKERNAS adalah salah satu sumber data ketenagakerjaan yang penting di Indonesia. SAKERNAS ini juga sangat bermanfaat, buktinya, sudah banyak pihak yang menggunakannya. Jangan salah, tidak hanya sebatas dalam negeri saja, pihak-pihak asal luar negeri juga banyak yang mencari loh.

SAKERNAS di Kecamatan Suppa untuk rumah tangga (ruta) yang menjadi ruta terakhir di blok kami atau ruta pertama yang kami datangi pagi ini letaknya tidak terlalu masuk pada sebuah gang yang berbatasan dengan jalan utama masuk Kecamatan Suppa. Rumahnya berjenis panggung, jenis rumah yang masih asing dan sangat menarik bagiku. Yap. Pemandangan langka bahkan belum pernah aku temui di Jawa.

Biasanya dibawah rumah panggung disediakan semacam amben(?) yang dijadikan orang yang tinggal di rumah itu untuk duduk-duduk bersantai ria. Suasana di bawah rumah sangat rindang, meskipun tempat sekeliling yang tidak tertutup rumah sangatlah panas. Kondisi yang sangat identik dengan wilayah pedesaan sangat kental disini (iyalah namanya juga desa, mau di Jawa atau Sulawesi sama). Banyak ayam peliharaan kesana kemari. Dan, oh, aku juga tadi dalam perjalanan menemui anjing peliharaan. Tapi itu saat masih di kota sebelum masuk kecamatan Suppa sih.

Pertanyaan di SAKERNAS sejatinya cukup sederhana. Lamanya hanya di perulangan setiap anggota ruta yang berumur 5 tahun keatas yang berulang kali ditanyakan dengan pertanyaan yang sama antar anggota ruta. Susahnya, diketawain. Hehe. Pertanyaannya terkadang dianggap lucu oleh responden. Aku kira biasa saja pertanyaannya. Cuma ketika dititik sebelah mana tiba-tiba saja isi satu rumah tertawa saja. Aku refleks meringis, tertawa sedikit. Entah apa yang mereka tertawakan. Sulitnya ada tidak? Ada, jawab petugas cacah lapangannya sambil senyum-senyum. Susahnya mengklasifikasikan jenis pekerjaan tentunya. Hal itu karena di lapangan, jenis pekerjaan akan terpecah menjadi banyak sekali dengan kriteria masing-masing.

Ruta selanjutnya. Horor. Kakak mitra kami sempat memperingatkan, hati-hati. Pasalnya, biasanya ketika masuk kebun yang kami lewati untuk masuk ruta ini, pasti ada yang mengikuti. Laki-laki katanya. Nah horornya adalah, laki-laki itu buka c3lan4. Okay, sudah tahu kan kelanjutannya? Nah. Saat kami pulang, laki-laki itu muncul. Tepat saat kami akan pulang. Aku yang tidak sadar, langsunglah berpaling melihat belakang, sungguh, beneran aku tidak tahu kalau dibelakang ada laki-laki itu. Tidak kok. Aku tidak lihat bagian bawahnya. Ibu responden yang baru saja kami wawancarai berkata bahwa, dia agak tidak waras. Duh…

Kami menunggu dengan sabar dan was-was selama 2 menit deh. Ibu ruta sampel kami untungnya baik, dan mengusir laki-laki itu sekaligus mengawasi jalan sampai kami pergi. Salutnya lagi untuk ibu itu adalah beliau menyiapkan dokumen-dokumen seperti KK dan kawan-kawannya agar memudahkan pencacah menuliskannya dalam kuesioner. Sisanya, tidak paham. Saya tidak bisa dan tidak paham apa yang mereka bicarakan.

Hampir sebagian besar wilayah di Kecamatan Suppa, memanjang di bibir pantai yang bernama Lowita. Pantai itu merupakan ujung dari Selat Makassar apabila dilihat dari daratan Sulawesi. Selat Makassar menghubungkan antara daratan Kalimantan dan Sulawesi. Pantai disini memiliki ombak yang tidak terlalu ganas. Hanya panas. Sedikit. Rasanya jauh sekali memandang kelautan menelisik Pulau Kalimantan diujungnya. Rindu, #ngawurpart2 #skip. Hehe.

Beberapa ruta terakhir benar-benar berada di bibir pantai. Yap, Pantai Lowita. Aku sempat mendekati bibir pantainya untuk memandangi laut dari kejauhan. Kata Kak Win, lautan yang luas itu adalah Selat Makassar. Aku memandangi ujung lautan itu dengan dalam. Ingin ke Kalimantan timur.. Ingin bertemu dengan banyak hal. Termasuk… #skipkeras

Pulangnya, aku ditraktir Bakso Solo sama Kak Win. Yeay terimakasih kak. Belum sempat aku mengucap apa yang ingin aku pesan, tiba-tiba mas-mas pedagangnya nyletuk dengan bahasa Jawanya yang kental, Badhe nopo Mbak (mau yang mana mbak)? Sejurus kemudian, langsung kupilih, bakso biasa. Pada saat kami sibuk makan, mengalunlah music jawa (MUSIK AMBYAR) yang sepertinya dimainkan secara live. Uh aku rindu banget dengan Jawa.

Waktu pada saat itu sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Semuanya seru. Pengawasan yang dilakukan. Medan yang kami tempuh. Orang-orang disini juga sangat ramah. Sayangnya, kakak mitra kami belum terlalu mensosialisasikan Sensus Penduduk (SP) Online. Perlu diketahui juga, ruta terpilih yang kami datangi pun hanya ruta biasa, sehingga apabila dilakukan sosialisasi pun mungkin hanya terbatas dilingkup keluarga yang tinggal di rumah itu saja, begitu pertimbangannya. Sekalinya, sosialisasi sudah terucap, ternyata rumah tangga yang kami datangi tidak memiliki smartphone. Jadi, aku akan mensosialisasikannya disini saja, bagi pembaca online-ku, dimanapun kalian berada, jangan lupa sukseskan SP2020 Online, #mencatatIndonesia. Kunjungi:

sensus.bps.go.id

 dalam 5 menit saja kok! Mulai HARI INI (15 FEBRUARI) HINGGA 31 MARET 2020.

Pinrang, 13 Februari 2020

Kajian Pertama di Pinrang

Februari 15, 2020 1 Comments

Hari ini, selasa, 11 februari, belum ada seminggu aku berada di bumi La Sinrang, kusempatkan diriku untuk belajar banyak hal. Termasuk kajian yang kadang aku luput untuk menghadirinya ketika aku masih di Jakarta. Lebih karena terbuai oleh kemewahan kota yang tiada bandingnya dibandingkan di daerah lain di Indonesia menjadi alasan kesalahanku saat berada disana. Hehe. Memang yang terlalu berlebihan pun tidak baik.

Suasana kabupaten Pinrang, tepatnya di Wattang Sawitto yang kadang sejuk, kadang pula panas, tidak jarang juga hujan, menjadikanku ikut penasaran juga tentang 'rahasia' wilayah disini. Katanya untuk bisa betah disuatu wilayah, kamu harus menjadikan wilayah yang kamu tempati, andaikanlah seperti rumahmu. Ah ngomong apasih aku. Intinya, aku berusaha menjadikan kabupaten Pinrang menjadi destinasi favorit tempat dimana aku akan tinggal dan merantau beberapa waktu kedepan.

Alhamdulillah wa syukurillah. Allah menunjukkan aku wilayah yang cukup bagus, dekat dengan kantor, masjid. Meskipun Pinrang belum ada mall (mall yang ada saat ini tidak terhitung ya hehe), cukup membuatku ngirit. Iyalah, menabung untuk masa depan. Bela beli ini itu tentunya dalam rangka aktualisasi diri menjadi lebih baik kedepannya. Halah. Aamiinkan saja ye.

Kajian pada malam rabu ini, ditemani oleh Bu Rat, bukan ibuku, meskipun namanya sama. Aku tidak tahu apakah beliau ikut ngekos atau keluarga dari ibukos. Hanya ibu tersebut sangat baik. Mengetok pintuku, disaat aku sedang hopeless-nya, kira-kira ada teman atau tidak untuk kajian. Biasanya ada aneesh yang menunggu di ujung gang. Saat ini, Bu Rat menjadi temanku di daerah penempatan, selain ibu kos dan kakak-kakak pegawai.

Sepertinya, masjid yang aku datangi ini beraliran sunnah. Kajiannya bagus. Tapi. Sayang bangeeeet. Aku membawa hape, jadi pikiranku tidak fokus. Aku terlalu banyak main hape ketika ustadnya memberikan ceramah sehingga catatanku berantakan. Entah itu karena bapak Ustadnya ceramah lompat-lompat, atau aku yang tidak memperhatikan. Ah, pasti aku deh yang salah. The blame is on me lah pokoke kalau masalah agama karena masih sangat dangkal. Kajian itu berlangsung hingga adzan isya berkumandang.

Setelah mengakhiri solat Isya, aku kemudian meminta izin untuk berpisah dengan ibu Rat yang sedari tadi menemaniku. Selanjutnya, aku berjalan sendiri. Aku sengaja pergi menyusuri jalan menuju toko kelontong modern terdekat. Sepanjang perjalanan entah kenapa setiap langkahnya terasa berat. Biasanya, entah dimanapun, disekitar kos, aku menjumpai teman sekolahku, setidaknya berpapasan. Tapi perjalanan kali itu, lebih dari itu. Semuanya terasa berat. Di dunia yang sangat asing dengan bahasa daerah yang tidak kumengerti, dengan orang-orangnya yang sama sekali tidak kukenal. Sekali lagi, aku tanyakan pada diriku sendiri, apakah aku bermimpi? Besar harapanku untuk mimpi yang kesekian kalinya adalah mimpi yang nyatanya benar mimpi. Aku ingin terbangun. Bangun dikosanku yang di Jakarta pasti mengasyikkan. Aku bisa mengetok kamar dek Lin untuk numpang solat, atau sekedar membangunkan si Val, atau mencuci dengan menghirup udara pagi Jakarta yang sedang sangat kurindukan.

Tapi kali ini tidak. Aku berjalan sendirian.

Akhirnya, sampai kos, tangisku tumpah. Haha. Aku benar-benar tidak menyangka kalau ini semua mimpi. Berpisah dengan teman satu angkatan atau orang-orang dekat yang sudah terbiasa tinggal di sekeliling. Hari itu, aku sudah mulai merantau sendiri. Di sebuah kabupaten yang sangat jauh dari rumah. Sudah bukan jauh lagi sepertinya. Tapi, kini, aku berada di pulau yang berbeda dengan ayah, ibu dan kedua adik-adikku. Aku disini tanpa keluarga (baca. Keluarga bepees tidak terhitung loh ya). Hehe tambah mellow saja. Untung aku masih ada teman yang dapat diajak ngobrol. Meskipun lewat telfon, aku merasa tidak sendiri. Meskipun hanya diiya-iyakan dan menemani sampai tangisku kering. Itu sudah sangat jauh lebih baik.

Btw, terimakasih Jakarta akan cerita dan kisah-kasihnya. Satu hal yang baru aku tahu, Jakarta diciptakan, hanya untuk tempatku singgah, bukan menetap. Tapi aku sangat-sangat bahagia!

Pinrang, 12 Februari 2020

Penempatan, Gembira!

Februari 15, 2020 1 Comments
Sekarang kerja dimana?
Dapat wilayah mana?
Kenapa memilih wilayah itu?
Dan pertanyaan lain yang menjadi momok tersendiri bagi kami, alumni sekolah kedinasan yang harus memenuhi janji kami untuk mengabdi di pelosok negeri tanpa terkecuali. Berat memang bagi kami, untuk meninggalkan keluarga di kampong halaman untuk mengabdi pada negeri. Ayahku sendiri berkata dan sudah iklas melepaskan kalau memang inilah jalan anak beliau untuk berbagi kepemilikan (anaknya) antara ayah dan negara.

“Kamu sudah bukan anak ayah lagi secara 100%. Tapi ayah harus rela hanya mendapatkan 50%, 50% lain untuk negara karena kamu saat ini sudah menjadi anak negara”, ujar Beliau sebelum aku berangkat kembali ke Jakarta setelah meminta doa restu agar selamat dan mendapatkan keberkahan di wilayah perantauan selanjutnya. Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya dapat diam. Benar kata ayah dan aku tidak bisa menyalahkan juga perkataan beliau meskipun hanya untuk sekedar menghibur.

Hehe. Dilema penempatan sebenarnya bukan hanya ada pada diriku. Tapi semua orang yang terikat pada ikatan dinas ini. Apalagi bagi orang-orang pada zaman dahulu yang beranggapan bahwa tinggal di luar Jawa selayaknya akan tinggal di luar dunia. Hehe. Pikiran yang menurutku agak ‘kolot’. Mengapa? Kita tidak bisa menghakimi wilayah lain seperti itu. Lagipula, ditempat perantauan dimanapun pasti banyak juga perantauan Jawa. Masih lah bisa bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa, kalau bertemu. Disisi lain, pengalaman (karena masih muda) akan sangat banyak. Bisa merantau dan menimba ilmu ke wilayah lain yang sungguh jauhnya tidak terkira pada saat kita masih muda tentunya memiliki andil penting membentuk kepribadian yang lebih baik kedepannya.

Alhamdulillah, tempat merantauku selanjutnya masih didekat Pulau Jawa yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Pinrang. Nah, jawaban itu untuk menjawab pertanyaan pertama mengenai ‘sekarang kerja dimana’ yang orang lain sering lontarkan. Provinsi Sulawesi Selatan menjadi titik yang baru aku lihat pada waktu-waktu terakhir penempatan. Awalnya sih ngejar, kalau bisa di Kalimantan ya Kalimantan saja. Namun anggapan begitu lalu pupus ketika banyak kakak tingkat mengenalkan bahwa wilayah di Kalimantan sangatlah luas. Bisa jadi waktu yang diperlukan lokasi tujuan dapat mencapai berjam-jam. Itu masih rentang wilayah antar kecamatan loh. Aku langsung menelan air ludah ketika mendengarnya. Iyalah. Aku yang notabennya masih mual-mual apabila menaiki mobil dan lainnya (kecuali roda 2 dan 3 y) dihantui banyak ketakutan dong kedepannya. Padahal awalnya sudah mantap Kalimantan Barat. Kenapa? Karena sepertinya menarik. Lagipula, kata nenekku, ada saudara yang tinggal di sekitar Pontianak. Beberapa alasan itulah yang mengubah pilihanku tidak lagi wilayah Kalimantan.

Sejurus kemudian, ayah kemudian menyarankan, bagaimana bila mencoba Sulawesi Selatan? Aku bergumam, ohiya benar juga. Ayah pernah menghabiskan beberapa tahun ketika beliau masih muda di Makassar, menempuh pendidikan S2 di Universitas Hasanuddin. Aku tanpa babibu, mencoba peruntungan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan perkiraanku, insyaAllah aku bisa masuk dalam kuota Sulawesi Selatan, hanya jika tidak sampai ditikung beberapa kali. Setidaknya apabila ditikung sekali oleh teman sendiri (yang mengubah pilihannya pada simulasi dengan hasil akhir) tidak mendapatkan posisi yang rentan kegusur ke wilayah provinsi lain. Bismillah saja. Apabila sudah jalannya, maka Allah akan menunjukkan.

Permasalahan selanjutnya, kabupaten manakah yang akan aku pilih. Sejatinya, kriteria pilihanku tidak muluk-muluk dan aku sadar juga akan diriku yang memiliki nilai tidak terlalu bagus (saya gak pencit heheh). Sehingga, satu-satunya harapanku adalah diberikan Kabupaten yang kondisi geografisnya tidak naik turun gunung apabila dari Makassar. Kembali lagi pada poin pertama, aku gampang mual! Oleh karena itu, aku menanyakan hal itu kepada kakak tingkat yang aku kenal yang mendapatkan penempatan di wilayah dengan provinsi yang sama. Sambil menunggu jawaban dari kakak tingkat, aku iseng juga menanyakan wilayah kabupaten yang akan teman-temanku pilih, praktisnya yang memiliki peringkat diatasku. Aku sempat agak emosi lantaran ada temanku yang sangat plin-plan terkait pilihannya. Harus kuakui, memang dalam penentuan  wilayah penempatan itu tidak main-main pentingnya, karena kita tidak satu atau dua hari saja menetap di kabupaten tersebut. Aku hampir saja ingin bodo amat, memilih kabupaten yang sudah aku impi-impikan sejak semalaman. Tapi aku tidak boleh berfikir konyol. Akhirnya, karena plin-plannya jawaban temanku tersebut, aku pastikan kembali ke dirinya di jam-jam terakhir sebelum deadline pengumpulan form penempatan, dimanakah wilayah yang dia pilih. Mendengar jawabannya, aku kemudian mengikat 1 wilayah kabupaten itu menjadi cita-citaku yang kuharapkan insyaAllah permanen. Disisi lain, kakak tingkat pun memberikan aku jawaban. Jawabannya satu, Pinrang. Persis dengan cita-citaku sejak pagi di hari terakhir pengumpulan form penempatan. Masalah prioritas pertama untuk penempatan terselesaikan.

Memilki peluang cukup tinggi untuk terpilih di wilayah Sulawesi Selatan, membuka pintu lebar bagiku untuk menempatkan wilayah dengan provinsi yang sama menjadi pilihan keduaku. Aku memilih kabupaten lain yang kira-kira terbagus kedua setelah Pinrang (lupa hehe), tentunya ditentukan lagi oleh kabupaten-kabupaten mana saja yang terbuka stoknya, karena tidak semua kabupaten membuka kuota baru. InsyaAllah, pada saat itu, aku sudah yakin, apabila tidak diterima di pilihan pertama, aku masih lah bisa diterima di pilihan kedua. Bagaimana dengan pilihan ketiga? Aku memilih provinsi asal saja (jangan ditiru), bahkan kuakui, aku sudah lupa apa pilihan ketigaku, antara Sulawesi Tenggara, Barat, Utara, haduh sudah lupa! Pesan menarik dari kakak tingkat dari opsi 3 pilihan wilayah penempatan yang diberikan, pilihan pertama, cita-cita, pilihan kedua berkutat pada wilayah yang paling realistis (yakin diterima) dan pilihan ketiga, pilihan yang PASTI dan HARUS diterima (tapi jangan berharap diterima di pilihan ketiga) karena fungsi pilihan ketiga adalah menjaga agar jangan sampai mendapatkan wilayah lain diluar jangkauan.

Benar saja. Ketika hasil penempatan keluar, aku sangat bersyukur. Pinrang, Sulawesi Selatan! Aku diterima di Pinrang. Begitu senang hatiku ketika membaca pengumuman penempatan. Alhamdulillah. Tapi ada satu hal yang perlu kalian ketahui tentunya. Hal itu karena hanya ada satu kuota, aku sendiri. IYA AKU SENDIRI YANG BERTUGAS DI PINRANG. Pada awalnya aku menganggap remeh akan hal itu. Aku masih tidak mengerti, aku dimasa depan ketika baru saja tiba di Pinrang, merasa sangat kesepian, ingin pulang, tidak ada teman (mungkin akan aku ceritakan di lain tulisan).

Sedihnya? Banyak!

Aku pernah terlintas untuk penempatan bersama dengan temanku. Aku nyaris diajak dan nyaris kuiyakan. Tidak ingin terpisah jauh menjadi alasan utama. Tapi, kuota agar kami dapat mendapatkan penempatan bersama tidak bisa kami ambil. Pertama, ayahku tidak setuju wilayahnya. Kedua, terkadang rindu yang menumpuk itu lebih baik. Hehe. Halah. Alasan kedua hanya penghiburan semata. Ayah yang tidak setuju, praktis membuatku mundur. Lagipula, orangtuanya juga tidak setuju. Tanpa penempatan bersama, temanku ini sudah mendapatkan kuota di kota di provinsi yang bersebelahan dengan aku (hanya harus berenang dulu untuk menggapainya). Sedangkan aku kabupaten. Tentunya pilihan antara kota atau kabupaten terkadang bukan pilihan yang sulit. Kira-kira bisa atau tidak masuk pada kuota di kota atau kabupaten dilihat dari realitas saja. Mayoritas yang memiliki nilai bagus akan membidik wilayah kota. Sederhana saja. Lihat saja waktu kedepannya. Sudah ikhtiar, biar Allah yang menentukan.

Hari demi hari mendekati hari kami penempatan, 4 Februari 2020. Hari itu bertepatan dengan hari Selasa. Hari Senin bagaimana? Masih masuk kantor. Belum packing dan belum siap mental menjadi alasanku ambyarlah di hari Senin. Teman-teman yang bertemu denganku antara pagi sampai siang melihatku biasa saja, tetap gembira. Tapi ketika jam sudah menunjukkan jam 3 sore, ketahananku sudah di batasnya. Aku menangis setiap kali bertemu orang-orang. Lebih kurang 1 jam lagi, aku akan menjadi kenangan ditempat ini. Bertemu Aci dan dengan pasrahnya aku bertanya, kapan bisa bertemu lagi? Mataku merah. Tidak bisa lagi menahan tangis. Tangisku pecah didepan lift gedung 1 lantai 7. Didepan Aci, teman yang kebetulan aku bertemu dengannya ketika sore hari, waktu ketika aku berada di titik terlemah sebelum penempatan.

Pulangnya, aku sengajakan naik ojek online. Meringkas waktu agar cepat sampai kos untuk packing, begitu tujuanku. Disetiap deru motornya, aku akan sangat merindukan Jakarta dan hiruk pikuknya. Termasuk kamu. Kalian semua. Semua yang sudah membuat cerita di empat tahunku belakangan ini. Aku masih ingat betul, betapa polosnya dahulu ketika baru sampai tiba di Jakarta. Aku hanya anak kecil yang tidak boleh pulang sampai larut (maghrib sudah ditelfon untuk pulang). Anak kecil yang masih bergantung pada orang tua. Tapi empat tahun lalu, aku mulai meniti kehidupan menjadi anak kos, di kota metropolitan, Jakarta.

Terimakasih juga untuk Ayah yang jauh-jauh dari Purwokerto setelah aku bercerita pada Beliau, teman-temanku diantar dengan keluarganya sampai bandara. Ayah mengambil kereta pada hari Senin selepas beliau dari kantor dan sampai Jakarta kurang lebih pukul 6 sore. Ayah membantuku packing dimana tidak mungkin sepertinya aku selesaikan packing sendirian malam itu. Barang-barangku bertumpah ruah sangat banyak. Ayah tidak tidur. Aku? TIdur hanya satu jam. Pesawatku berangkat jam 7 pagi ke Makassar sehingga kami berangkat dari kos pukul 3.30 pagi menuju Bandara Soekarno Hatta. Kurang lebih perjalanan kami hanya 20 menit menjangkau bandara. Waktu yang singkat bagiku melihat kanan kiri gedung pencakar langit yang mungkin tidak akan kulihat beberapa waktu kedepan. Ada Mbak Me juga yang membantu segala hal. Mbak sampai kos pukul 3an pagi sambil membawa tas untuk barang-barangku yang belum tertampung. Pokoknya kami bertiga bersama menuju Bandara.

Aku bersyukur. Pada hari dimana aku akan masuk melanjutkan check-in dan tetek bengek lain, aku tidak menangis didepan Ayah dan Mbak. Aku sudah berjanji pada diriku tidak akan membuat keduanya sedih karena perantauan diriku yang semakin jauh. Aku hanya cium tangan ayahku dan Mbak. Ayah mencium keningku dan mengatakan pesan-pesan ala kadarnya, seperti hati-hati dan berkabar ketika sampai. Sudah. Aku sangat senang bisa diantar keluarga sebelum aku meninggalkan Jakarta. Terimakasih banyak aku sampaikan untuk Ayah dan Mbak. Selain itu, untuk pihak keluarga serta handai tolan juga yang sudah mendoakan dari jauh.

Perjalanan menaiki pesawat sebenarnya sudah yang ketiga kali pada hari itu. Pengalaman pertama dan kedua, saat kami mengikuti PKL di Bengkulu. Tapi rasanya, naik pesawat yang jauh (2jam) membuatku merasa seperti kali pertama aku menaiki pesawat. Lagipula, aku juga sudah agak lupa rasanya naik pesawat saat kami PKL karena hanya 1 jam Jakarta-Bengkulu.

Menyambut dan mengalami penempatan merupakan salah satu pengalaman terbesarku saat ini. Entahlah. Dilema meninggalkan dan ditinggalkan oleh orang-orang terkasih memberikanku banyak pelajaran. Harus kuakui juga memang, aku mempunyai banyak teman dan TERSEBAR SECARA MERATA DI SELURUH INDONESIA. Masing-masing dari kami hingga saat ini tidak pernah lupa membagikan apa yang terjadi di wilayah penempatannya. Aku pun sama. Bodo amat, semua yang bilang, ih jauh banget, sendiri nyenye. Allah tahu apa yang terbaik dan terbaik untukku, mengabdi pada negara melalui data sampai pelosok negeri, bersama dengan teman-teman satu angkatan dan kakak-kakak angkatan terdahulu yang sudah merasakan manis-pahit-getirnya penempatan.

Meskipun aku sendiri disini, hampir tiap malam, kami video/voice call melepas rindu. Tidak tahu besok. Saat ini kan masih hangat-hangatnya tahi ayam (ih) terkait penempatan. Penutup, ohiya, jadi ingat salah satu kalimat bahasa Bugis yang dikenalkan saat orientasi di Makassar dan mengandung pesan persahabatan yang sangat dalam, kupersembahkan untuk pembaca semua:
 Rampeka Golla Na Kurampeki Kaluku
Kenanglah Aku Semanis Gula dan Akan Kukenang Kamu Seenak Kelapa

Pinrang, 15 Februari 2020

22 Jul 2019

Batas

Juli 22, 2019 0 Comments
Sumber: Pinterest


Ada kalanya kita jenuh dengan keadaan diluar sana yang orang kiranya baik-baik padahal tidak. Tidak yang dimaksud benar tidak kasat mata sampai orang yang melihat pun kaget mendengarnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun faktanya justru sebaliknya.

Tidak ada segala harapan dan angan sesuai dengan ekspektasi pengamat. Persis. Semua pasti memiliki error. Kadang sebagian manusia pun melihat dan menamainya dengan variabel "tangan Tuhan". Sekalipun pengamat yakin sebesar 95 persen dugaannya akan berhasil. Masih ada 5 persen sisanya bisa menjadi lebih besar dibanding 95. Siapa tahu. Iyakan.

Kompleksitas kehidupan tidak selamanya bersifat deterministik. Halah. Apabila kamu ditanya 5+5 jangan kemudian lantang kamu menjawab 10. Bisa 11. Bahkan 100. Atau mungkin bernilai negatif. Itulah lucunya kehidupan. Apa yang kita terawang tidak selamanya menjadi benar. Baiklah. Meskipun kepada siapa sedang aku berbicara saat ini adalah profesor ilmu guna-guna, tidak guna pula apabila Tuhan sudah berkehendak lain.

Ah pikiran sudah melantur sejauh mana ini.

Cerita dan dugaan tanpa teori ini datang dari seorang gadis cilik yang masih ingin mengenggam sebongkah mainan cantik tapi apa daya tubuh tak kuasa lagi untuk menopang. Boneka-boneka cantik nan lucu berdiri secara mega-nya memancarkan bling bling irama glowing.

Brrr. Brr.
Bulu kuduk ikut pula untuk berdiri menyangsingkan semua yang ada secara kasat mata. Semua hanya tipuan. Iya. Dunia hanya gurauan.

11 Mei 2019

5 dan 6: Say NO to “Degdegan Waktu Persentasi”

Mei 11, 2019 0 Comments

RAMADHAN 1440 H
HARI KE-5 DAN 6

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bagi sebagian orang yang berkecimpung dalam dunia public speaking pasti udah familiar banget yang namanya persentasi. Tidak hanya public speaking, untuk mendukung pengajaran sekolah SD SMP SMA bahkan perkuliahan, persentasi maju kedepan juga sudah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Sayangnya, tidak semua orang bisa persentasi dengan lancar dan percaya diri. Bahaya dong! Hal itu karena yang namanya persentasi itu penting banget juga nanti ketika kita sudah terjun dalam dunia masyarakat dan karir.
Dilansir dari tweet @Jahenanas yang bisa dikepoin lewat link disini menyebutkan beberapa tips persentasi yang akan dijelaskan pada pembahasan dibawah.
Hal paling penting dalam melakukan persentasi itu adalah cara persentasinya. Bukan orangnya. Bukan kerennya. Bukan isinya. Aneh ya? Engga kok. Dalam melakukan persentasi, meskipun sebagian orang lebih menilai tampang fisik apakah cerah dan mendorong antusiasme audience, tapi hal itu bukan sesuatu yang mutlak loh! Dalam jangka panjang, justru yang memiliki tampang apik dan rupawan tidak akan selamanya diterima oleh masyarakat. Kenapa? Karena meskipun masalah yang diangkat adalah sederhana, orang yang membawakan menarik, tapi tetap saja apabila cara persentasinya tidak dilakukan dengan baik.
Kenal gak sama ‘Steve Jobs’?

Gambar. Steve Jobs
Bapak Steve adalah pendiri pendamping, ketua, dan mantan CEO Apple Inc. Meskipun pada tanggal 5 Oktober 2011 di California adalah hari berpulangnya pak Steve Jobs pada usia 56 tahun karena menderita kanker pancreas, namun beliau dikenal luas sebagai seorang visioner, perintis dan genius dalam bidang bisnis, inovasi, dan desain produk, dan orang yang berhasil mengubah wajah dunia modern, merevolusi enam industri yang berbeda, dasekutif. Apalagi bidang persentasi beliau yang berhasil membawa produk perusahaan yang pernah diusungnya yaitu seri Apple II yang sukses secara komersial.
Ada satu kutipan lama Wayne Gretzky yang aku sukai. 'Aku berseluncur ke tempat bola akan berhenti, bukannya mengikuti jalur bola.' Dan kami selalu mencoba melakukannya di Apple. Sejak awal sekali. Dan kami akan terus melakukannya.— Steve Jobs
Nah belajar persentasi dari bapak Steve Jobs ternyata ada 3 hal yang bikin persentasinya keren pake banget! Ini dia:
1.      Persentasi didesain untuk memuaskan audiens
2.      Pesan efektif
3.      Pesan disampaikan seperti storytelling

Gambar. Tiga Kunci Persentasi Steve Jobs
Kita bahas satu-satu kuy!
1.      Persentasi didesain untuk memuaskan audiens
Presentasi didesain untuk memuaskan audiens. Apa yang disampaikan harus memancing keingintahuan dan atensi audiens supaya mereka paham dan ingin tahu lebih banyak tentang apa yang kita sampaikan.
2.      Pesan efektif
Nggak banyak-banyak data, cuma video dan gambar yang relevan dan powerful. Semuanya harus efektif dan sesuai dengan tujuan, nggak ada distraksi dan semuanya jelas tanpa ambigu.
3.      Pesan disampaikan seperti storytelling
Dia mulai dari masalah, kenapa itu jadi masalah, lalu bagaimana dia punya solusi untuk masalahnya. Kerennya, dia membuat audiens juga merasa punya masalah yang sama!

Waduh auto nampol dong buat kita-kita yang kadang suka leterlek banget mbacain paragraph isi di power point yang seringnya minim gambar dan yaudah bodo amat tanpa mempersiapkan segala sesuatunya kaya yang sudah dilakukan oleh pak Steve. Pasti penasaran dong gimana tips-tipsnya?

Dilansir dari sini, gampang aja kok tipsnya!

Tunjukkan minat (passion) dan terhubung dengan audiens ..........
Ini nih hal yang sering kita lupa. Connect dengan audiens menjadi hall wajib sebelum melakukan persentasi setelah berdoa. Gimana caranya? Sebelum presentasi coba sapa beberapa audiens. Penting lagi, coba deh untuk jaga antusiasme diri karena audiens nggak akan antusias kalo kita nggak antusias.

Fokus pada kebutuhan audiens ..........
Ini bukan cuma tentang apa yang kita ingin ceritakan, tapi juga tentang apa yang penting untuk audiens. Kita harus cari tahu apa yang kira-kira menarik dan relevan buat target audiens. Ingat! Waktu presentasi jangan sampai berlebihan, takutnya malah audiens ngantuk. Selain itu, fokus juga sama respons audiens.

Keep it simple: berkonsentrasi pada pesan inti ..........
Fokus sama inti presentasi kita, jangan kemana-mana. Tau kan dosen yang kalo ngajar malahan cerita kisah hidupnya? Ya enak sih buat kita jadi bisa ngobrol #astoghfirulloh :D
Jangan gitu ya! Sampaikan hal-hal yang penting dan relevan aja. Kita harus tau apa inti yang mau kita bicarakan. Nah.

Tersenyumlah dan buat kontak mata dengan audiens ..........
Kedengarannya gampang, tapi banyak yang gagal karena fokusnya kemana-mana. Liat ternit lah. Fokus ke tembok lah. Kontak mata Cuma buat orang-orang penting doing. Padahal sih audiens nya sampai tumpeh tumpeh malah fokus ke satu tempat. Haduh. Senyum dan kontak mata itu penting loh untuk membangun koneksi sama audiens, juga buat mengurangi rasa nervous karena kita berasa ngomong sama orang, bukan kerumunan. Caem khan.

Mulai dengan kuat ..........
Waktu-waktu awal presentasi itu krusial untuk bisa dapetin perhatian audiens. Pernah ga sih denger istilah critical eleven (sebelas menit paling kritis di dalam pesawat). Yupsi istilah popular dalam dunia penerbangan ini maksudnya adalah tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
Oke balik lagi ke topic. Intinya adalah waktu awal-awal adalah waktu yang pas banget buat mengesankan audiens. Makanya kita harus kasih impresi bagus. Bisa bercanda sambil kenalan, atau tanya-tanya sama audiens. Tapi kalau menurutku sih jangan maksa, jangan SKSD banget deh! Takutnya ntar audiens jadi ilfil.

Aturan 10-20-30 ..........


Gambar. Aturan 10-20-30

Apa tuh maksud??? Artinya slide presentasi idealnya: (1) Tidak lebih dari 10 slide, (2) Tidak lebih lama dari 20 menit dan (3) Font di slide tidak lebih dari 30points.

Ceritakan kisah ..........
Hayu calon buibu dan pakbapak. Human beings are programmed to respond to stories. Cerita yang runut membantu audiens untuk lebih memperhatikan kita dan mengingat apa yang kita sampaikan. Karena….

Storytelling is the most powerful way to put ideas into the world.

Jadi, berceritalah!

Gunakan suara secara efektif ..........
Suara yang keras akan menarik perhatian audiens. Selain suara, perhatikan juga intonasi dan kecepatan bicara. Balik lagi, kita perhatikan audiens, sesuaikan sama level atensi dan kemampuan mendengar mereka. Janjos deh.

Santai, bernapas, dan nikmati ..........
Don’t be afraid to close your eyes and dream.
Don’t be nervous to open your eyes and create those dreams into realities.

Kalau kita nervous dan takut, presentasi bisa buyar. Maka dari itu untuk supaya agar nggak nervous, kita perlu atur nafas baik-baik. Jangan keburu-buru. Kalau kita tenang, kita bisa enjoy ngasih presentasi, audiens juga enjoy!

Gimana?
Have you been ready to face the world?

A little bit of stage fright. But then I’M READY!


10 Mei 2019

4: Sesi Terakhir (Friends Forever)

Mei 10, 2019 0 Comments
RAMADHAN 1440 H
HARI KE-4

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pada hari ini, tepatnya hari Kamis, 9 Mei 2019, atau ramadhan hari ke-4 menjadi malam terakhir bagi kelas tingkat 4-ku bersua bersama-sama untuk menikmati sesi terakhir perkuliahan yang sudah kita geluti bersama-sama (meskipun masing-masing pernah berada dalam kelas yang berbeda). Ada banyak canda dan tawa, suka dan riang gembira yang pernah kita torehkan. Entah itu cerita pelit, pahit, bahkan pelik sudah berhasil mewarnai hari-hari selama bersekolah di sekolah hebat ini.


Gambar. Rumah 😊
Taken by: Dwek (2019)

Berbagai karakter teman dengan satu jurusan motivasi yang sama. Ya, meskipun yang petakilan juga tidak sedikit hehe. Tapi, apabila dibandingkan dengan ruang pertemananku selama SD SMP SMA adalah jauh. Aku lebih merasakan kekeluargaan secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan masa sekolahku dulu. Meskipun entah suatu saat aku dapat bersekolah lagi dan mungkin saja aku akan menemukan teman seperguruan lain yang lebih asyik dibandingkan yang kumiliki sekarang. Tapi kan siapa tahu. Siapa juga yang akan menjamin apakah aku bisa melanjutkan sekolah lagi? Apakah teman yang kutemui lebih baik berada dalam tingkatan sekolah yang lebih tinggi? Ataukah justru teman terbaik datang pada saat ini, saat hari ini ku menyadari, aku memiliki jutaan perasaan yang susah untuk kurangkai satu-satu untuk menggambarkan betapa berkesannya kalian bagiku.
Pada masa ini, aku merasa menjadi seseorang yang paling bersyukur di dunia. Salah satunya adalah karena aku dikelilingi oleh orang-orang baik. Banyak banget orang baik di sekitaran ruang perantauanku sekarang dan tentunya tidak menyangka dapat dipertemukan dengan sobat-sobat manis seperti kalian semua. Entah aku akan pergi mengambil uang, pergi ke bank, pulang kos, melalang buana ke kantin dan pergi main pasti ada saja sekelompok teman yang tidak pernah membiarkanku sendiri.
Sampai pada akhirnya, kita semua sudah sampai di penghujung sesi terakhir kuliah di sini. Tentunya sudah mengajarkan banyak hal. Hal itu dapat berupa tanda. Sebagai penanda bahwa kamu tidak sendiri. Kamu ada bersama-sama kita disini. Merajut mimpi. Merajut asa. Meskipun matahari sudah sampai di penenggalah, tapi tawamu padaku tidak pernah padam. Tangismu padaku pun tidak pernah sekalipun dusta.
Sedih sih…
Besok kita bisa bertemu sesering ini tidak ya?
Besok masih bisa mengobrol panjang lebar atau hanya sekedar tanya kabar?
Besok kamu masih seperti umur 21 tahun saat aku sekarang mengenalmu tidak ya?
Apa besok kita akan baru bertemu lagi dengan gandengan putra dan putri kita masing-masing?
Atau mungkin kamu sudah terlebih dahulu mendahului? Tertinggal nama yang terpatri di sanubari. Itupun apabila masih ingat jelas. Ingatan manusia siapa yang akan menjamin?
Lalu, apakah masih sehat? Apakah masih bisa tertawa lepas? Apakah kamu masih nyata? Berada persis didepanku tanpa penghalang? Penghalang waktu, tempat, suasana, semua.
Apakah aku esok masih bisa memegang tanganmu dan menggenggamnya? atau terbatas dengan online? Berbalas dengan emoticon palsu?
Dan apakah. jarak. jarak yg suatu saat akan memisahkan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki?
Cukup.
Aku sudah tak kuasa melanjutkan. Air mataku sudah ingin mongering kembali dan menyudahi hari ini yang katanya terakhir perkuliahan. Ah Cuma perkualiahan. Kamu tidak juga pergi. Bahkan menghilang. Kamu ada semua dalam sanubari.

Jadi kawan…
Jika hari itu tiba, saat kita bertatap muka lagi. Kuharap kalian mengingatku dengan sosok ku saat ini, tidak berubah seperti ketika umur 21 tahun terakhir bertatap sua dan kemudian bertemu lagi entah berapa tahun atau belasan tahun lagi atau entah kapan itu.

Beribu orang mungkin akan kamu temui selepas kita berpisah. Tapi kuharap, aku bisa selalu mempunya ruang khusus di hatimu. Entah. Sebagai sosok periang Sosok menyebalkan. Random? Karena itulah aku. Sama. Kamu juga. Aku akan mengingatmu dengan apa adanya kamu dengan tingkah kamu semua yang menggemaskan yang membuatku rindu padahal belum ada satu hari kita tidak bertemu.

Hari-hari panjang  akan mewarnai kehidupan kita mulai esok hari. Hingga saatnya tiba… Kita semua berpindah tugas berbakti pada negeri ini seperti yang sudah kita sama-sama ikrarkan dulu.

Ingat ya…
You can’t stop the waves, but you can learn to surf.

Dan sepenggal lirik dalam Friends Forever - Vitamin C

But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out 'cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now 'cause you don't have another day

'Cause we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love but it came too soon
As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
Come whatever
We will still be
Friends forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule.

Selamat berjuang kawan! J

8 Mei 2019

3: Kenalan Sama Brush Make-Up

Mei 08, 2019 0 Comments
RAMADHAN 1440 H
HARI KE-3

Assalamualaikum Wr. Wb.
Ramadhan random thoughts lebih tepatnya hehe. Hari ketiga yang jatuh di hari Rabu ini, aku bakalan share tentang make up brush. Dewasa ini emang ya, dunia perkosmetikan semakin membabi buta, tidak hanya iklan persuasive yang lagi massif-masifnya tapi juga ciri masyarakat modern yang katanya sih konsumsinya kian tinggi tidak bisa kita pungkiri melanda kita juga apalagi hidup di Indonesia yang udah batinnya terpatri dikit-dikit beli. Eits, ,konsumsi apa dulu coba. Kalo berdasarkan teori Almira (2019) menyatakan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia saat ini sudah mengalami pergeseran tidak lagi hanya mengfokuskan kebutuhan dasar (basic needs) tapi tergantikan dengan kebutuhan perawatan diri dan sejenisnya. Masyarakat jaman now butuh banget sama penghargaan dan pengakuan, contoh, ih kamu cantik lalala. Makanya tujuan dari pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan) sudah mulai bergeser kearah pengakuan diri dari diri sendiri atau orang lain tuh. Makanya ga kaget, termasuk kamu juga, nyasar kesini nih sebagai buktinya. Yak an? Kepo banget ih sama make up tools haha. Tapi tenang kok. So do I. Kamu ga bakal sendiri. Disini ada aku juga yang kepo kok 😇
Oke, tanpa berlama-lama langsung aja yuk caw ke bahasan detailnya!
Afdhol-nya sih kalau mau ber-make up ria, butuh banget yang namanya make up brush. Nah karena aku juga masih pemula (asumsi nya yang baca juga masih pemula yes), maka aku berniat beli tuh make up brush yang bisa dibilang terjangkau deh buat aku yang masih berstatus sebagai anak kos. Tanpa dadidu, langsung ku membuka aplikasi sh0pee nya dan berlanjut surfing cari make up brush 😝😝
Here it is what I’ve actually had. Yeay!

Gambar. Make Up Brush
Kalau tidak salah harga dari 1 perangkat make up brush manjalita ini berkisar antara 10ribu-20ribu loh (komen aja yang penasaran beli nya dimana😁). Gapapa deh asal cuma berharga 1x makan insyaAllah terjangkau banget buat aku dan teman-teman semua yakan. Ongkirnya juga Alhamdulillah gratis karena aku beli di toko online itu beberapa barang kosmetik buat aku sendiri dan juga kuberikan ke teman. Sekalian gitu biar gratis ongkir.

Nah dalam 1 set lengkap ini ada 5 make up brush inti (menurutku). Apa aja tuh?
  1. Rouge Brush
  2. Eye Shadow
  3. Lip Brush
  4. FNF Eyebrow Shaper
  5. Pouch Brush



Gambar. Bagian Belakang
Sebenarnya di bagian belakang dari set ini udah ada tulisan detail nya fungsi untuk masing-masing make up brush tapi sayangnya ga secara detail dan jelas setiap make up brush itu namanya apa. Jadi setelah aku surfing akhirnya dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:

Rouge Brush

Gambar. Rouge Brush
Menurutku brush jenis ini hampir mirip (atau emang beneran sama gatau deh) dengan Kabuki Brush. Kalau kamu punya ini serius deh, you are safe! Bentuknya yang bisa dibilang paling besar dibandingkan brush lainnya ini mempunyai bentuk yang agak rata dibagian atas, Brush ini bisa digunakan untuk berbagai macam make up loh! Bisa mulai dari bedak tabur yang diaplikasikan dari jidat dan seterusnya di bagian wajah dan leher sampai bisa diaplikasikan buat blush on bahkan highlighter (pokonya multifungsi). Brush ini cocok buat dipakai segala jenis kosmetik bubuk. Tapi pakai nya pelan-pelan ya, jangan sampai pada rontok 😏

Eye Shadow

Gambar. Eye Shadow
Eh ini bukan kosmetik kelopak mata dan dibawah alisnya ya. Nope. You salah besar dong karena eye shadow disini maksudnya adalah kuas mungil buat dipakai untuk mengaplikasikan eyeshadow di kelopak mata. Salah satu ciri penting dari kuas ini adalah bentuk kuasnya yang pipih dan melengkung dibagian atas yang fungsinya untuk mempermudah proses blending sehingga tercipta gradiasi yang sempurna. Asik.

Lip Brush

Gambar. Lip Brush

Bentuknya paling mungil dibandingkan yang lain menjadi ciri dari lip brush ini. Lah kan ngolesin lipstick langsung aja gampang kok. Waduh tidak sebegitu mudah bambang! 😆. Nah, fungsi dari brush ini adalah karena brush ini memang dirancang untuk membentuk garis bibir, juga mengatur warna lipstick yang kita inginkan. Dan satu lagi temen temen, bentuknya yang unik dan mungil ini juga bagus banget kalau kamu mau mengaplikasikan lipstick palette atau matte biar warnanya cucok!

FNF Eyebrow Shaper

Gambar. FNF Eyebrow Shaper

Kalau dipasaran sih kayanya ya dikenalnya itu lash brow atau sikat alis. Jadi brush ini ada 2 sisi yang berbeda dengan fungsi tersendiri buat masing-masing sisinya. Sisi pertama yang bentuknya seperti sisir (warna hitam) ini digunakan buat nyisir bulu mata. Lah kok bulu mata disisir? Emang bisa? Iya dong. Misal kamu habis mengaplikasikan mascara ga mesti hasilnya rapi kan yes. Pasti ada gumpalan manja yang tertinggal di bulu mata kita. Absolutely disturbing. Makanya perlu banget buat disisir biar enyah deh semua gumpalan yang menganggu. Lalu, untuk sisi yang satunya yang berbentuk seperti sisir (warna putih) digunakan untuk menyisir alis. Cakep khan?!

Pouch Brush

Gambar. Pouch Brush

Tunggu tunggu. Sebenarnya brush jenis ini mirip sponge aplicator yang suka dikasih di tempat eye shadow gitu yang dikasi gratis berikut eye shadow nya gak sih? Tapi kalau aslinya buat pouch brush ini fungsinya adalah buat jadi foundation brush buat nutupin beberapa titik yang mau kita tutupin. Bisa pakai tangan kok. Not always ladies! Kalau aku sih prefer buat pakai brush jenis ini buat nutupin spot belang di muka biar tetap keliatan cetar membahana (apasih 😊). Ya pokonya gitudeh paham kan yah.

Okay selesai sudah penjelasan tentang make up brush di Ramadhan 1440H hari ke-3. Yang paling diingat sih kalau mau ber make up ria harusnya sih buat mas suami aja (😅😅😅😅😅). Keluar pakai make up tentunya boleh tapi sekedarnya aja yah ladies! Biar kita semua terhindar dari tabarruj yang berlebihan.

Semangat puasanya ya~